Close Menu
Citpose.com
  • Home
  • Nasional
  • Advertorial
  • Pemerintahan
  • Destinasi
  • Pendidikan
  • Olahraga
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Disclaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Penawaran Iklan
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
Citpose.com
  • Home
  • Nasional
  • Advertorial
  • Pemerintahan
  • Destinasi
  • Pendidikan
  • Olahraga
Citpose.com
You are at:Home»Advertorial»Pj Gubernur Akmal Malik Minta Pesta Adat dan Budaya Wehea Lom Plai Harus Dilestarikan
Advertorial

Pj Gubernur Akmal Malik Minta Pesta Adat dan Budaya Wehea Lom Plai Harus Dilestarikan

adminBy admin19 April 2024Updated:23 April 20243 Mins Read
Facebook Twitter Telegram WhatsApp
Share
Facebook Twitter Email Copy Link Telegram WhatsApp

MUARA WAHAU – Puncak acara Pesta Adat dan Budaya Wehea, Lom Plai yang digelar di Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, turut dihadiri Penjabat (Pj) Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Akmal Malik, Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman, Wakil Bupati Kutim Kasmidi Bulang serta beberapa pimpinan organisasi perangkat daerah Pemprov Kaltim dan Pemkab Kutim, sabtu (19/4/2024)

Lom Plai merupakan pesta syukur panen padi yang selalu dilaksanakan oleh masyarakat adat Wehea setiap tahun. Lom Plai adalah kegiatan bersama enam desa di kawasan Wehea.

Enam desa itu adalah Desa Liaq Leway, Desa Bea Nehas, Desa Nehas Liang Bing, Desa Long Wehea, Desa Diaq Lay dan Desa Dea Beq. Hari ini merupakan acara puncak Lom Plai atau juga dikenal dengan sebutan Bob Jengea.

Setiba di lokasi acara, di Desa Nehas Liah Bing, Pj Gubernur Akmal Malik bersama Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman, Wakil Bupati Kasmidi Bulang dan rombongan disambut ritual adat oleh tokoh adat Wehea.

Setelah itu, rombongan langsung bergegas turun ke pinggir sungai dan untuk menyaksikan beberapa perlombaan perlombaan dayung, tarian diatas rakit, seksiang (perang-perang diatas perahu). Sementara warga menonton di pinggir sungai juga berlangsung Embos Min (pembersihan kampung) para perempuan, orang tua, remaja yang melantun syair doa dengan mengeliling kampung.

Embos Min dimaksudkan untuk membuang segala kesialan dan kejahatan yang ada di dalam kampung.

Saat mereka berjalan ke arah hulu atau hilir kampung tidak ada satu pun yang boleh melintas baik itu hewan mau pun manusia, sehingga warga masyarakat diarahkan ke tepi sungai.

Lomba ini diikuti 4 desa, yaitu Desa Diak Lay, Desa Long Wehea, Desa Dea Beq dan Desa Nehas Liah Bing. Masyarakat juga ditampilkan tarian adat oleh muda-mudi setempat dari atas rakit. Ada pula atraksi.

Pertunjukan sungai yang paling ditunggu adalah Seksiang. Seksiang diartikan sebagai tiruan perang-perangan pada zaman dahulu yang dilakukan di atas air atau sungai dengan tombak weheang. Tombak weheang dalam bahasa Wehea adalah rumput gajah yang pada bagian ujungnya telah ditumpulkan. Permainan dilakukan sambil menunggu Embos Min selesai.

Para pemain memakai beberapa perahu menuju ke hulu sungai dan akan sambil hanyut mengikuti arus air sungai. Mereka saling menombak hingga hilir kampung

Namun ada beberapa aturan yang harus dipatuhi dari seni perang di sungai ini. Antara lain lawan yang jaraknya dekat tidak boleh ditombak. Begitu juga saat lawan dalam posisi membelakangi atau karam.

Selanjut Pj Gubernur, Bupati dan rombongan Proses ritual Mengsaq Pang Tung Eleang yaitu seorang ketua adat akan disiram oleh seorang gadis, kemudian ketua adat mendahului naik dan akan diikuti oleh masyarakat.

Seni budaya Wehea ini luar biasa. Harus terus kita lestarikan,” kata Pj Gubernur Akmal Malik di sela kegiatan tersebut.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan Pengsaq dan Peknai. Pengsaq artinya siram-siraman dan Peknai artinya pemberian arang di wajah. Orang-orang yang disirami dan diberi arang diwajahnya tidak boleh marah. Ada pun aturan dalam pengsaq dan Peknai adalah tidak boleh menyirami atau memberi arang pada wajah orang yang memiliki bayi atau memberi arang pada wajah orang yang sakit.

“Saya sarankan setiap penyelenggaraan, kita juga mengundang wisatawan mancanegara dan berbaur dengan budaya lain agar lebih meriah dan lebih dikenal,” tambah Akmal.

Pesta Adat Lom Plai saat ini sudah menjadi salah satu kegiatan yang tercatat dalam Kharisma Event Nusantara. Acara juga dihadiri Staf Ahli Bidang Pengembangan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Masruroh, Wakil Bupati Kutai Timur Kasmidi Bulang, Kepala Adat Adat Desa Nehas Liah Bing Liedjie Taq dan para tokoh adat Wehea. (ADV/CP-DS)

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp
admin

Related Posts

Kerja Cepat Aparat, Empat Tahanan Kabur di Kutai Timur Kembali Diamankan

11 Januari 2026

Benchmark ke Sleman, Langkah Strategis Kutim Mengukir Prestasi Akuatik Masa Depan

6 Desember 2025

Basuki: Turnamen E-Sport Jadi Ruang Positif Bagi Pemuda Kutim

28 November 2025
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru
  • Antisipasi Banjir Susulan, Polsubsektor Batu Ampar Minta Pemdes Siapkan Titik Evakuasi
  • Target 50 Ribu Pekerja, Pemkab Kutim Mulai Bangun Peta Ketenagakerjaan
  • Kerja Cepat Aparat, Empat Tahanan Kabur di Kutai Timur Kembali Diamankan
  • Hilirisasi Jadi Kunci, Keripik Pisang Produksi IKM Kutim Perkuat Penetrasi di Pasar Uni Eropa
  • Pantau Harga Lebih Cepat, Disperindag Kutim Andalkan SP2KP dan Videotron Kota
  • Disperindag Kutim Terapkan Skema Jemput Bola di Pasar Murah 2026
  • DLH Kutim Perluas Program Bank Sampah, Fokuskan Pengelolaan dari Lingkungan Perkantoran
  • Penggabungan NPWP Suami–Istri, Lebih Efisien dan Hemat Pajak? Ini Penjelasannya
  • Kunjungan Tenant Masih Rendah, Pengelola MPP Sangatta Fokus Perluas Sosialisasi Layanan Publik
  • Upgrading KONI Kutim Perkuat Organisasi dan Target Prestasi Porprov
Categories
  • Advertorial
  • Daerah
  • Destinasi
  • DISKOMINFO KUTAI TIMUR
  • DPRD Kutai Timur
  • KALTIM
  • Kutai Timur
  • Kutai Timur
  • Nasional
  • Olahraga
  • Pariwisata
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Samarinda
  • Tokoh
  • Traveller
© 2026 Powered ByCitpose.com.
  • Iklan
  • Karir
  • Kontak
  • Kode Etik
  • Pedoman
  • Privasi
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.