Samarinda – Pukulan berat masih dirasakan sektor pariwisata di Samarinda akibat pandemi Covid-19, sejak Kuartal ke II (Maret – Juni) lalu. Tercatat hingga pada pertengahan Kuartal ke III (Juli – September) ini, sektor pariwisata hanya mampu terangkat sekitar 40 persen saja.
Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Kota Samarinda, I Gusti Ayu Sulistiani mengatakan penurunan pendapatan yang dirasakan di sektor wisata sempat mencapai nol persen, akibat ditutupnya destinasi pariwisata di Kota Tepian.
“Sejak 1 Juli hingga 20 Agustus, lini wisata hanya mampu terangkat 40 persen saja,” ucap wanita yang biasa disapa Ayu tersebut.
Harapan pendapatan sektor wisata kembali naik sempat terbuka, takala Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menerapkan fase relaksasi tahap tiga.

Namun, tampaknya kebijakan tersebut tak sepenuhnya ampuh mengatasi krisis ekonomi yang dihadapi sektor pariwisata akibat pembatasan pengunjung.
“Iya maklum, pengunjung memang dibatasi. Jika dulu bisa ratusan sekarang hanya boleh puluhan orang saja sekali kunjungan. Maksimal 50 pengunjung,” sambung Ayu.
Ayu menegaskan pembukaan Tempat Hiburan Malam (THM) maupun lokasi pariwisata lainnya di Samarinda tetap memberlakukan protokol kesehatan.
Disiplin tersebut lebih ditegaskan dengan dikeluarkan Perwali Nomor 38 mengenai disiplin masker. Tentu ini celah harapan membuat roda perekonomian Kota Tepian tetap berputar.
“Hingga sampai saat ini belum ada keluhan dari pengelola bisnis. Meski omzetnya tak mengalami peningkatan signifikan. Namun tetap harus bersyukur, yang penting roda ekonomi berputar,” terangnya.
Hinggga kini Samarinda masih berstatus zona merah penyebaran Covid-19. Akumulasi positifnya pun sudah mencapai 570 kasus. Karena itu Dispar Kota Samarinda menegaskan meskipun tempat usaha masih diberikan kelonggaran, wajib menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan disiplin.
“Kalau sampai terjadi klaster di cafe, tempat hiburan malam dan lokasi usaha, kita juga yang rugi. Jadi disiplin dengan protokol kesehatan itu perlu,” pungkas Ayu.