
KUTIM – Bupati Menghadiri Kegiatan Halal Bihalal yang dilaksanakan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) di Jalan Soekarno Hatta rt 26 desa Singa Gembira kecamatan Sangatta Utara Kabupaten Kutai Timur, sabtu (11/5/2024)
Kegiatan ini turut dihadiri pejabat Pemerintah Kabupaten Kutim maupun Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Mantan Gubernur Kaltim Isran Noor, para warga Kutai Timur.
Ardiansyah Sulaiman selaku Bupati Kutim mengatakan bahwa dirinya mengapresiasi dan bangga atas persatuan yang terus dibangun keluarga besar Sulawesi Selatan di tanah Kutim.
“KKSS selama ini begitu luar biasa, terlebih di bawah kepemimpinan Suharman Cono, “Di masa beliau, tidak henti-hentinya kesana kemari untuk mempersatukan warga-warga Sulawesi Selatan dalam rangka membangun Kutai Timur,” paparnya
“Pelaksanaan halal bihalal ini memang sudah terlambat namun silaturahmi tidak waktu yang membatasi bagian dari syariat agama islam, Jadi Bapak Ibu sekalian secara pribadi keluarga dan atas nama pemerintah Kutai Timur menyampaikan ucapan Minal aidin wal faizin,” ucapnya.
Dirinya meminta agar masyarakat dan para tokoh petinggi Kaltim yang hadir menjadikan agenda tersebut sebagai ajang saling memaafkan dan mengikhlaskan satu sama lain, sehingga betul-betul saat selesai menjalankan ibadah puasa Ramadan maka kembali fitrah kesucian. Fitrah dalam artian sudah tidak lagi berdosa.
“Atas nama pemerintah Kutai Timur, saya menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada kerukunan keluarga Sulawesi Selatan yang selalu mengutamakan kebersamaan di Kutim,” kata Ardiansyah.
Sementara itu, Suharman Cono Ketua DPD KKSS Kutim mengungkapkan rasa terimakasih kepada semua pihak yang telah hadir berpartisipasi dalam agenda itu, Terlebih kepada Ketua KKSS sebelumnya, Haji Saka.
Selain kegiatan halal bi halal sebelumnya peresmian tanah hibah yang diberikan Haji Saka sebagai Sekretariat DPD KKSS Kutim.
“Alhamdulillah tadi telah diresmikan Sekretariat DPD KKSS secara langsung oleh Bupati Kutim dan kami berharap seluruh warga KKSS Kutim bisa bekerja sama dalam membangun Kutai Timur.
“Kemudian Asal usul tidak lagi menjadi kendala untuk mencintai daerah tersebut karena Keberadaan kita bukan lagi sekedar warga pendatang, kita adalah warga Kutim,” tegasnya.
“Kalau kita selalu menganggap dan mengatakan kita adalah pendatang maka kita tidak akan pernah mencintai Kutim dengan sepenuh hati,” tandasnya. (ADV/CP-AI)
