Samarinda – Dinas Perindustrian Kota Samarinda mengadakan Bimtek industri logam, mesin, perekayasaan, elektronika dan alat transportasi pada 26-28 Agustus 2020. Kegiatan dilakukan di Graha Ruhui Rahayu di Jalan Juanda Samarinda, diikuti 20 peserta.
Muhammad Faisal, Kepala Dinas Perindustrian Kota Samarinda menjelaskan peserta yang ikut merupakan teknisi senior di Samarinda. Instruktur didatangkan dari Jakarta. Setiap peserta mendapat bantuan 1 set alat service HP khususnya perbaikan hardware.
“Bantuan peralatan yang diberikan sudah cukup bisa membuka tempat service sendiri,” ujar Faisal, Kamis (27/8/2020).
Sementara itu, Herizal instruktur dari LPK Wahana Education Jakarta Selatan menjelaskan selama pelatihan lebih banyak bertukar pikiran.
“Materi utama kembali pada konsep analisa kerusakan. Bagaimana teknik membaca skematik HP serta skill pengangkatan IC EMMC (pusatnya penyimpanan internal pada hp Android),” ujarnya.

Ia menjelaskan perkembangan dunia gawai dari kisaran 15 tahun terakhir sangat pesat. Pada 2004 silam hanphone (HP) berbasis symbian masih merajai. Kemudian pada 2008-2014 Blackberry digandrungi, lalu 2014 hingga sekarang dunia ponsel dirajai platform berbasis android.
“Agar tidak ketinggalan teknisi HP harus mampu mengikuti perkembangan,” ungkapnya.
Lanjutnya, pengerjaan kerusakan HP prinsipnya sama saja, baik dari ponsel symbian, android, blackberry hingga iphone. Ditanya mengenai tarif service iphone yang biasanya lebih mahal Herizal mengaku.
“Biaya mahal dilihat dari harga HP-nya juga,” ungkapnya.
Menurutnya, saat ini di Samarinda sudah sangat cukup tersedia kebutuhan service HP khususnya sparepart.
“Peserta semuanya sudah punya skill tingkat tinggi, sudah bagus semuanya. Hanya saja perlu ada wadah dan bimbingan untuk saling berbagi pengetahuan,” ujarnya.
Karena itu, dibentuk wadah Asosiasi Teknisi Ponsel Kalimantan Timur (ATPOKAT) di Samarinda, dimana pelaksana sementara kepengurusan yaitu Asok dan Aditya.
“Harapan kami adanya ATPOKAT ini bisa lebih bekerjasama dan menjadi wadah bagi teknisi, agar profesi teknisi bisa bersaing dengan profesi lain,” ujarnya.
Kata dia, selain wadah untuk meningkatkan kompetensi, juga wadah dalam hal bantuan hukum jika ada anggota yang terjerat masalah hukum misalnya karena hal jual beli HP.
“Kami berharap pemerintah dapat memfasilitasi ATPOKAT ini yang menaungi kami para teknisi HP,” ungkapnya.
Ditanya mengenai tarif service HP di Samarinda menurutnya perlu ada standarisasi harga. Karena itu melalui wadah ATPOKAT ini hal tesebut bisa dilakukan.
“Alhamdulilah di Samarinda untuk tarif service masih bagus. Misalnya untuk kerusakan software paling murah yaitu Rp 50 ribu,” pungkasnya.