Sangatta – Menjelang penutupan tahun, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tengah menyiapkan rangkaian program besar yang menyentuh dua sektor sekaligus: yaitu penguatan gizi siswa dan pengembangan kebudayaan daerah.
Selain memastikan data sekolah untuk mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah pusat, Disdikbud Kutim juga menyiapkan empat agenda kebudayaan yang diproyeksikan menjadi salah satu gelaran terbesar sepanjang 2025.Kepala Disdikbud Kutim,
Mulyono, menegaskan bahwa pihaknya memberikan dukungan penuh terhadap implementasi Program MBG yang dikelola Badan Gizi Nasional (BGN). Menurutnya, Disdikbud berperan dalam menyediakan data valid mengenai jumlah sekolah serta peserta didik di seluruh wilayah Kutim sebagai dasar perencanaan pendistribusian makanan bergizi.
“Peran kami dalam MBG lebih kepada memastikan ketersediaan data yang akurat. Data sekolah dan jumlah siswa kami serahkan ke BGN. Pengelolaan dapur, penyediaan bahan makanan, hingga mekanisme distribusi sudah ditangani langsung oleh BGN dan para mitra pelaksana,” ujar Mulyono.
Ia menjelaskan bahwa koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan satuan pendidikan sangat penting agar program pemenuhan gizi tersebut berjalan efektif. Diharapkan, intervensi ini dapat menekan angka kekurangan gizi pada anak sekaligus mendorong peningkatan kualitas belajar siswa.
Tak hanya fokus pada program gizi, Disdikbud Kutim juga memasuki masa persiapan intensif untuk agenda kebudayaan dan literasi besar-besaran. Ada empat gelaran utama yang akan digelar dalam beberapa bulan ke depan, dengan melibatkan sekolah, komunitas seni, hingga masyarakat umum.
Keempat kegiatan tersebut yakni Festival Magic Land, Pameran Jejak Nabi dan Rasul, Festival Musik Anti Narkoba dan Festival Literasi Daerah.
Dalam Festival Literasi Daerah, Mulyono menyebut bahwa antusiasme sekolah sangat tinggi. Ia menargetkan partisipasi lebih dari 13.000 peserta, terdiri dari siswa, guru, komunitas literasi, dan pustakawan sekolah.
“Untuk Festival Literasi, kami menargetkan sekitar 13 ribu peserta dari seluruh sekolah. Kami optimistis agenda ini bisa menjadi salah satu ajang literasi terbesar di Kalimantan Timur, bahkan berpotensi memecahkan rekor MURI,” ujarnya penuh optimisme.
Disdikbud Kutim menilai bahwa penguatan sektor pendidikan tidak hanya terletak pada aspek akademik, tetapi juga pada pengembangan karakter melalui kegiatan seni dan budaya. Karena itu, seluruh agenda akhir tahun dirancang untuk memberikan ruang kreatif bagi peserta didik sekaligus menghidupkan kembali ekosistem kebudayaan lokal.
Mulyono menegaskan bahwa pihaknya terus mendorong kolaborasi dengan berbagai lembaga, baik pemerintah pusat, komunitas seni, maupun organisasi literasi untuk menciptakan kegiatan yang berdampak luas.
“Harapan kami, kegiatan-kegiatan ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga membentuk wawasan, karakter, dan kesadaran budaya bagi generasi muda Kutim,” tutupnya. (ADV/AR)
